jelaskan riwayat hidup bp soedirman
Sejarah
fatihah8
Pertanyaan
jelaskan riwayat hidup bp soedirman
2 Jawaban
-
1. Jawaban dwirara612
pada hari Senin Pon bulan Maulud tahun 1334 Hijriah di Dukuh Rembang, Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Soedirman. Dia lahir di rumah kediaman Asisten E\Wedana (Camat) R. Cokrosunaryo. Sejak bayi tersebut masih dalam kandungan ibunya telah disepakati menjadi anak dari Camat R. Cokrosunaryo. Ayah dari anak tersebut bernama Karsid Kartawiraji dan Ibunya bernama Siyem. Sejak kecil Soedirman diasuh dan dididik oleh R. Cokrosunaryo. Dua tahun kemudian keluarga Karsid Kartawiraji mempunyai putra lagi seorang anak laki-laki dan diberi nama Mokhamad Samingan.
Setelah pension dari jabatannya sebagai Asisten Wedana, R. Cokrosunaryo tidak menetap di Rembang, Purbalingga. Keluarga R. Cokrosunaryo berikut keluarga Karsid Kartawiraji pindah ke Cilacap dan menetap di kampong Manggisan. Pada tahun 1923, Soedirman dimasukkan ke sekolah HIS (Holland Inlandsche School) di Cilacap. Kemudian masuk ke sekolah Taman Siswa. Pendidikannya dilanjutkan ke Sekolah MULO (Middelbar Uitgebreid Lagere Onderwijs) atau saat ini Sekolah Lanjutan Pertama di Wiworo Tomo Cilacap sampai tamat. Sejak di MULO Wiworo Tomo ini Soedirman dididik oleh Suwarjo Tirtosupono, seorang lulusan Akademi Militer Breda yang tidak ingin dilantik sebagai Opsir KNIL, tetapi memilih terjun ke pergerakan nasional. Dia dipercayai memimpin MULO Wiworo Tomo di Cilacap.
Di samping kegiatan di sekolah, remaa Soedirman aktif dalam organisasi kepanduan (Pramuka) Hizbul Walthon (HW) yang diasuh oleh Muhammadiyah. Ia sangat aktif dalam organisasi ini. Dalam berbagai jamboree yang diadakan ia turut aktif mengambil bagian. Ia dikenal sebgaai pemuda yang penuh tanggung jawab, cakap, tangkas bermasyarakat dan disegani oleh teman-temannya. Peranan yang menonjol ini menumbuhkan kepercayaan dari kawan-kawannya. Semula Soedirman sebagai anggota biasa kepanduan HW, meningkat menjadi pimpinan untuk daerahnya dan kemudian menjadi pimpinan persatuan kepanduan Karisedenan Banyumas Tengah yang waktu itu meliputi daerah Jawa Tengah dan Priangan Timur. Dalam organisasi pemuda ia diberi kepercayaan pula sebagai Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah.
Sudirman yang aktif dalam kepanduan HW dan Pemuda Muhammadiyah itu kemudian mendapat kepercayaan untuk mendidik siswa HIS Muhammadiyah. Dia merasa terpanggil jiwanya mengemban tugas dengan penuh tanggung jawab untuk mendidik bangsanya yang masih berada dalam kungkungan penjajah. Ia menyadari bahwa ternyata pendidikan sangat penting karena tanpa adanya pendidikan sukar bangsanya untuk mencapai kemerdekaan.
Sebagai seorang guru, pergaulan beliau dengan sesame rekan pendidik penuh dengan pengertian, saling hormat-menghormati dan harga-menghargai sehingga tercapailah hubungan yang harmonis. Keberhasilan dalam tugas dan hubungan yang baik itu membuahkan kepercayaan dari pimpinan dan juga sesame rekan pendidik. Guru-guru pada sekolah tersebut memilih Sudirman untuk menduduki jabatan Kepala Sekolah. Pendapat para guru itu sejalan dengan pendapat pimpinan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah, maka beliau diangkat sebagai Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah.
Pada tahun 1936 pemuda Sudirman memasuki lembaran baru dalam hidupnya. Ia menikah dengan gadis Alfiah, puteri dari R. Sastroatmojo, yakni seorang pedagang yang terpandang di daerah Plasen, Cilacap. Alfiah adalah teman sekolah di perguruan Wiworo Tomo. Sudirman sebagai siswa MULO Wiworo Tomo sedangkan Alfiah duduk di tingkat HIS. Keduanya sama-sama aktif dalam organisasi Pemuda Muhammadiyah. Dari perkawinan ini, Tuhan memberikan karunia 7 orang putera dan puteri.
Menjelang pecahnya Perang Pasifik yaitu pada tahun 1941, pemerintah Hindia Belanda menyadari bahwa api peperangan yang telah berkobar di daratan Eropa akan menjalar ke Asia. Pemerintah Hindia Belanda membentuk Inhemse Militaire. Kepada rakyat mulai diberi penerangan serta latihan cara menghadapai bahaya udara . untuk keperluan itu dibentuklah LBD (Lunht Bescherming Diens) atau Penjagaan Bahaya Udara yaitu suatu badan keamanan yang tugasnya membantu dan menertibkan masyarakat di dalam menghadapi bahaya udara. Tokoh Sudirman memasuki Badan Penjagaan Bahaya Udara ini dan ditunjuk sebagai Kepala Sektor LBD Cilacap. Dalam mengemban tugasnya, beliau sering berkeliling member penerangan kepada rakyat umum tentang cara-cara menyelamatkan diri apabila terjadi serangan udara di daerahnya. Pos-pos penjagaan didirikan setiap 1 km dengan dilengkapi kentongan yang dijaga oleh anggita LBD. Di setiap kantor, sekolahan, pabrik dan tempat umum lainnya dibangun lubang perlindungan -
2. Jawaban devid12
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).
Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.
Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.
Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat.
Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.
Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat
Advertisement
sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.
Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.
Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa.
Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupunPresiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.
Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.